Dibangun pada masa pemerintahan Majapahit di abad 15, candi Cetho yang bercorak Hindu hingga kini masih berperan dalam upacara-upacara pemujaan, bukan hanya umat Hindu tetapi berbagai aliran kepercayaan yang meyakini bahwa candi ini adalah tempat melakukan upacara ruwatan atau tempat untuk membebaskan dari kutukan.
Spiritualitas berbagi, berempati dan bersimpati demi keselamatan jiwa anak-anak dan jiwa kita sendiri
Showing posts with label Travel Notes. Show all posts
Showing posts with label Travel Notes. Show all posts
Tuesday, September 4, 2012
Friday, May 18, 2012
Subuh di Kota Palu
Mataku berbinar menyaksikan sebuah oasis di fajar hari yang sungguh tak terbayangkan. Perjalanan darat semalam suntuk dari Buol ke Palu yang berliku dan hampir diselimuti kegelapan sepanjang jalan, telah membuat mataku layu dan seluruh tubuhku lunglai. Tetapi gemerlap lampu yang membentuk lengkung-lengkung megah dari kejauhan itu telah membangunkanku dari rasa kantuk yang berat. Dari dekat, jembatan lengkung Ponulele yang bertaburan lampu itu sungguh sebuah wahah yang tidak sekedar menjadi ornamen perkotaan tetapi representasi gairah masyarakat Palu yang juga menghapus redup semangatku di subuh yang masih sepi ini.Thursday, May 3, 2012
Tari Dayakan
Asimilasi Seni Tari Magelangan Yang Memikat
Di pelataran sekolah anakku di daerah Mertoyudan, Magelang, sontak saya terkesima oleh kehadiran sekolompok anak-anak remaja yang mengenakan pakaian berwarna-warni, kontras-mencolok, penuh ornament, juga dihiasi dengan tutup kepala dan rias wajah yang sangat menarik. Belum hilang ketakjuban ini, saya makin bingung ketika mendengar nama tarian yang akan mereka bawakan, Dayakan. Sebuah nama yang bagiku menjadi sangat asing ketika semua ini berada di tengah wilayah budaya Jawa, bahkan masih di seputaran pusat budaya Jawa yaitu Jogjakarta dan Surakarta.Monday, April 30, 2012
Pasar Terapung Kuin, Banjarmasin
Masih Menggeliat Tapi Kian Sepi
Mengunjungi kota Banjarmasin akan terasa kurang bila tak menyinggahi pasar terapung Kuin yang terletak di pertemuan Sungai Kuin dan Sungai Barito. Pasar yang menggeliat hanya pada pagi hari dari kira-kira pukul 5.30 hingga 7.30 ini sungguh-sungguh menyuguhkan keindahan yang sulit ditemukan di tempat lain sekaligus artefak hidup model barter yang masih dapat disaksikan di jaman ini. Barter terjadi hanya antar para petani yang saling membutuhkan hasil bumi yang mereka bawa, selebihnya adalah selayaknya para pedagang dan pembeli yang bertemu di sebuah pasar untuk melakukan transaksi.
Subscribe to:
Posts (Atom)